Tips Sukses Rasulullah tentang Agama, Ekonomi, Keluarga dan Bermasyarakat

Oleh: Sidiq Mustakim, lulusan Al-Amien Prenduan kemudian studi di Al-Azhar University Cairo.

Rasulullah S.A.W tidak hanya memberikan petunjuk tentang keselamatan akhirat atau kehidupan setelah mati, melainkan beliau tidak lupa untuk menuntun umatnya untuk hidup sukses dalam kehidupan dunia ini. Diantara perkataan beliau tentang kehidupan dan kunci-kunci suksesnya bisa kita lihat dari riwayat berikut:

“Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa yang meremehkan lima hal maka dia akan merugi lima hal yang lainnya. Barangsiapa yang meremehkan ulama maka dia akan rugi pengetahuan agama. Barangsiapa yang meremehkan umara’ (pemerintah), dia akan merugi kehidupan duniawi. Dan barangsiapa yang mengentengkan tetangga maka ia akan merugi manfaat. Dan apabila  seseorang meremehkan kerabatnya maka ia akan rugi kasih sayang. Sedangkan apabila seseorang tidak menghargai istrinya maka ia akan merugi dalam kehidupan rumah tangganya.”"

Sekilas kalau kita baca hadits di atas tidak ada kaitannya dengan sukses maupun kesuksesan. Namun kalau kita kaji secara cermat riwayat tersebut akan memberikan kunci-kunci sukses dalam hidup. Mari kita cermati bersama perkataan Nabi satu-persatu.

“Barangsiapa yang meremehkan ulama maka dia akan rugi pengetahuan agama….” dari sini kita bisa mengambil pengertian bahwa kunci sukses untuk belajar agama ada pada ulama. Mustahil seseorang, secara logika normal, bisa menguasai ilmu agama tanpa melalui berguru kepada seorangpun dari golongan ulama, karena nabi sudah jelas-jelas pernah bersabda mengenai kiprah ulama ini, seperti dalam hadits “ulama adalah pewaris para nabi”. Dengan demikian, apabila kita ingin sukses dalam menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan langkah yang perlu ditempuh adalah mencari tokoh ulama, bukan tokoh-tokoh lain yang pura-pura mengerti agama, seperti halnya belajar ilmu Islam kepada orang-orang sekuler ataupun orientalis, apalagi belajar kepada non-muslim. Hal ini juga berimplikasi bahwa seseorang yang belajar ke negara yang bukan Islam, seperti ke Belanda, Inggris, atau bahkan ke Amerika, merupakan jalan keliru dan tidak akan sampai kepada tujuan untuk menguasai agama Islam. Bagaimana mungkin kita mau mengetahui kota Jakarta, tapi kita pergi ke Papua? agak lucu kan?

Perkataan Nabi selanjutnya adalah “Barangsiapa yang meremehkan umara’ (pemerintah), dia akan merugi kehidupan duniawi.” Apakah ada kaitan antara umara’ dengan keduniawian? pastinya semua tahu bahwa perekonomian sebuah bangsa diatur oleh birokrasi-birokrasi yang ada dalam tubuh kepemerintahan, dengan demikian kita bisa menarik pengertian dari ungkapan Nabi ini bahwa kunci sukses untuk mendapatkan keduniaan adalah pemerintahan. Jika pemerintahan sebuah negara bobrok maka kita bisa memprediksikan bahwa negara tersebut akan bangkrut, karena ekonomi bergantung pada pemerintahan. Apabila pemerintahannya bagus, maka ekonomi akan maju. Dengan ungkapan ini juga, kita bisa memahami bahwa Nabi menginginkan umatnya menjadi aktor-aktor dalam pemerintahan agar supaya tidak dikuasai oleh orang-orang yang tidak baik, apalagi yang merugikan rakyat seperti para koruptor, karena kesejahteraan manusia secara umum berada pada tangan-tangan umara’ (pemerintah). Jangan sekali-kali meremehkan hal yang berkaitan dengan kepemerintahan, termasuk juga dunia politik, karena dunia politik tidak lepas dari bagian pemerintahan, kebijakan pemerintahan merupakan kebijakan politik, dan apabila kehidupan politik baik, maka ekonomi rakyat juga akan membaik. Umara’ kunci sukses kehidupan duniawi dan jika suatu negara ingin maju, maka jangan sekali-kali meremehkan umara’ dan yang berkaitan dengan pemerintahan.

Tidak hanya agama, pemerintahan ataupun dunia politik, Nabi juga bersabda mengenai kunci sukses bermasyarakat, “Dan barangsiapa yang mengentengkan tetangga maka ia akan merugi manfaat”. Tidak seorangpun bisa menyangkal bahwa orang-orang yang pertama kali datang ketika kita berteriak minta tolong adalah yang berada paling dekat dengan kita. Dalam perkataan Nabi tersebut, yang dimaksud dengan tetangga adalah orang-orang yang berada di sekeliling kita, bahkan orang yang duduk satu ruangan, atau satu kursi dalam bis dengan kita bisa dikategorikan tetangga karena berada di sekeliling kita. Menjaga hubungan baik dengan tetangga, berarti kita memegang kunci sukses dalam kehidupan bermasyarakat. Bayangkan saja jika seandainya seseorang itu tidak baik dengan tetangganya, kemudian suatu hari rumahnya kebakaran, kira-kira siapa yang akan memberikan pertolongan? Orang yang sedang berseteru mestinya akan senang apabila melihat musuhnya dalam kesusahan, begitu juga ketika seseorang yang tidak baik dengan tetangga kemudian terkena musibah, pastinya tetangganya tidak akan menolongnya bahkan bisa jadi dia akan dibiarkan berteriak-teriak minta tolong, atau juga bahkan tetangganya lah yang sengaja menjadikannya dalam kesusahan tersebut. Makanya nabi juga pernah mengatakan bahwa tidaklah beriman seseorang yang tidak baik dengan tetangga, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain,”Demi Allah, tidaklah beriman seseorang yang belum mencintai tetangganya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”.

Kehidupan bertetangga terjaga, keamanan dan kemudahan ada di tangan. Jika tetangga merupakan kunci sukses dalam kehidupan bermasyarakat, maka Rasul juga menyarankan umatnya untuk selalu menjaga hubungan kekerabatan sebagai sebuah kunci kedamaian dan kasih sayang sebagaimana dalam hadits tersebut,  “Dan apabila  seseorang meremehkan kerabatnya maka ia akan rugi kasih sayang”. Hubungan kerabat berbeda dengan hubungan apapun, karena hubungan kerabat merupakan hubungan darah, yang tidak bisa terhapus oleh keadaan apapun. Seorang ibu akan tetap menganggap anak yang durhaka sebagai anaknya, begitu juga sebaliknya anak yang jahat tetap akan dianggap sebagai anaknya walau bagaimanapun, orang-orang akan menyebutnya anak “si ini” anak “si itu” dan seterusnya. Kasih sayang dari kerabat ini akan selalu mengalir kepada kita selama kita menjaganya, apabila kita meremehkannya, kita bisa terhalangi untuk mendapatkannya. Kasih sayang dari kerabat tidak akan bisa digantikan oleh kasih sayang yang lain, karena kasih sayang yang lain terkadang memiliki tujuan-tujuan tertentu yang apabila tujuan tersebut tidak tercapai, maka akan berubah menjadi kebencian dan permusuhan. Saking berartinya kasih sayang kerabat ini, Rasulullah menyatakan, “Barangsiapa yang memutus hubungan kekeluargaan, ia akan masuk neraka”.

Apabila kerabat merupakan kunci kasih sayang, maka di dalam sebuah keluarga ada sebuah kunci untuk menjaga ketentraman dan kedamaian rumah tangga, yaitu istri sebagaimana dalam ungkapan Nabi di atas, “…apabila seseorang tidak menghargai istrinya maka ia akan merugi dalam kehidupan rumah tangganya”. Rumah tangga akan hancur apabila istri tidak menjaganya. Di dalam sebuah keluarga apabila istri tidak mendidik anak dengan baik, maka anak-anak tersebut bisa menjadi lawan dari diri kita sendiri, akan tetapi jika istri mendidik anak dengan benar, maka kedamaian keluarga akan tercapai. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan keuangan keluarga misalnya, apabila istri salah dalam mengelola keuangan maka perselisihan terkadang tidak bisa dihindarkan. Peran istri dalam keluarga sangat besar, sehingga Rasulullah melarang umatnya untuk meremehkan keberadaannya. Jika kita ingin hidup dalam keluarga yang tenang dan tentram, jagalah dengan baik istri kita. Sekali kita salah dalam menjaganya, satu keluarga bisa terancam ketentramannya.

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.