Jangan Ajari Kami Politik Bohong!

Oleh: Sidiq Mustakim, lulusan Al-Amien Prenduan kemudian studi di Al-Azhar University Cairo.

“Ayo kalau kita menang PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) gratis, itu hanya bahasa politik.” Demikian dalih salah seorang politikus ketika ditagih janji politiknya ketika kampanye yang tidak terlaksana pada saat terpilih. Bagi rakyat kecil hal ini sudah biasa dan sudah menjadi budaya turun-temurun sejak masa orde lama, atau mungkin bahkan sejak masa kerajaan, atau lebih mungkin lagi ketika masa Imam Ghazali yang mengharamkan seseorang untuk terjun ke politik.

Sudah menjadi kebiasaan ketika seseorang masih belum menjadi pemimpin atau sedang mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin ia akan mengumbar janji yang terkadang hanya bahasa politik (yang menipu dan tidak jujur), layaknya bahasa iklan-iklan operator telepon seluler yang menuliskan secara besar-besar kata “GRATIS” atau nelpon Rp. 0 dari detik pertama, tapi tidak dijelaskan secara terbuka dalam iklan tersebut berapa lama Rp. 0 tersebut berlaku atau berapa tarif setelah Rp. 0 habis.

Pada saat kampanye mau menggratiskan ini lah, mau menggratiskan itu lah, tapi setelah jadi terpilih ternyata ia tidak mampu melaksanakan janji-janjinya tersebut, kemudian berbagai argumen akan dikerahkan atau bahkan berbagai cara akan ditempuh untuk membersihkan diri meski harus membohongi publik. Benar-benar tidak jauh berbeda antara politik yang bersifat kepentingan umum dengan bisnis yang bersifat kepentingan pribadi dan keuntungan golongan.

Masyarakat memang sudah terbiasa tertipu oleh iklan-iklan menyesatkan dari berbagai penjuru, tidak hanya iklan-iklan komersial bahkan iklan-iklan politik juga ternyata menggunakan metode yang sama, metode yang menipu. Demi untuk mendapatkan tujuan politik, seseorang rela melakukan pembohongan publik. Hal ini tidak jauh berbeda dengan politik Yahudi yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Padahal kita selalu mengecam dan mengutuk gaya politik mereka, namun di sisi lain kita malah dengan bangga mempraktikkan gaya politik yang sama.

Dan yang lebih aneh lagi apabila gaya politik menyesatkan ini dilakukan oleh orang yang notabene-nya seorang kyai, mengingat saat ini banyak kalangan kyai yang masuk dan aktif dalam dunia politik. Perilaku politik yang tidak jujur ini jelas-jelas bertentangan dengan semua nilai-nilai yang kita anut, baik itu nilai agama maupun nilai sosial dan kemasyarakatan. Allah dan Rasul-Nya mengecam keras perilaku orang munafik yang selalu tidak jujur dalam perbuatannya dan selalu memutar-balikkan kata. Bahkan Allah dalam banyak ayat-Nya memperingatkan mereka bahwa sebenarnya mereka telah menipu diri mereka sendiri, mereka telah mencoreng muka sendiri, karena mereka akan kehilangan kepercayaan dari oran-orang sekitarnya.

Tidakkah kita melihat bagaimana Soeharto turun, bagaimana Husni Mubarak berakhir, dan tokoh-tokoh lainnya yang menebar kata-kata manis di depan rakyat, tapi pahit di belakang mereka. Tokoh-tokoh tesebut tumbang karena kehilangan kepercayaan yang disebabkan oleh gaya politik tidak jujur yang mereka terapkan. Masyarakat mengamuk karena merasa telah dibohongi. Maka benarlah sabda Rasul: “Qulil haqqa walau kana murran (katakan dengan benar meskipun itu pahit).” Lebih baik jujur dan transparan dalam berpolitik daripada suatu saat rakyat marah dan kecewa karena merasa dibohongi kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ajari kami politik yang jujur

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.