Media bias di Indonesia tentang Timur Tengah

Media Indonesia sangat terpengaruh pemberitaannya oleh keyakinan pribadi pembuat berita. Penyaji berita di Indonesia, entah ini demi tujuan komersil atau kebetulan, memberikan berita dan mengemasnya sesuai dengan selera mayoritas masyarakat. Saya kasih contoh dalam pemberitaan krisis Timur Tengah, media Indonesia tidak ada yang mengecam Hamas yang tidak menghentikan serangan roketnya ke Israel dan memancing agresi militer Israel ke Gaza. Kebanyakan hanya mengutuk Israel dan menceritakan kebahagian jika ada korban dari Israel yang jatuh.

Padahal tidak lah demikian keadaan seharusnya, media harus bisa menjaga objektifitas berita agar tidak menyesatkan para pembaca. Bayangkan saja ketika kita lihat aksi demo yang diadakan di Indonesia, banyak penduduk yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa tentang konflik Timur Tengah ikut-ikutan demo, karena ulah media yang telah menyesatkan pola pikir mereka.

Konflik Timur Tengah, konflik antara Israel dan Hamas, di media-media Indonesia dianggap perang antara dua agama besar Yahudi dan Islam. Padahal Israel tidak pernah mengeluarkan statement untuk memerangi Islam ataupun ingin menyerang penduduk Gaza yang tidak berdosa, mereka hanya ingin menghentikan tindakan Hamas yang tidak pernah menghentikan tindakan terornya, dengan peluncuran roket, ke penduduk Israel, dan penyerangan itupun atas pengetahuan Mesir sehari sebelum penyerangan dengan berkunjungnya Livni, menlu Israel, ke presiden Mubarak di Kairo.

Dan jika lihat juga reaksi negara-negara Arab di sekitar konflik seperti Arab Saudi, Qatar, Dubai, dan lain-lain, mereka semua diam menyetujui serangan Israel ke markas Hamas, dan semua menginginkan adanya perdamaian di Timur Tengah dengan menghabisi organisasi teroris Hamas yang tidak pernah mau mengakui Israel, dan malah ingin menghapus Israel dari peta bumi.

Para bangsa Arab setuju, bahkan rakyat Palestina sendiri yang berada di West Bank, seandainya Hamas dihabisi terorisme dan bom bunuh diri akan berakhir. Alasan Mesir pun menutup perbatasan Rafah, yang menghubungkan Gaza dan Sinai Mesir, demi untuk menjaga ke stabilan negara Mesir agar terorisme tidak pindah ke Mesir. Seandainya perbatasan tersebut dibuka, besar kemungkinan aktifitas terorisme pindah ke daerah sekitar Sinai Mesir dan akan merambat ke daerah-daerah lain di Kairo.

Dengan pemberitaan media Indo yang kerapkali terpengaruh oleh keyakinan individu, sang penulis berita, banyak sekali terjadi kesalahpahaman di masyarakat tentang konflik yang terjadi. Dan hal itu sangat berbahaya, apalagi dukungan media tersebut nantinya dibuat rujukan oleh kaum fundamentalis ekstrimis untuk merekrut kaum-kaum yang tidak mengerti apa-apa ke dalam jaringan terorisme.[fosifrenzy]

Tinggalkan Balasan