Memilih pasangan hidup

Hidup yang banyak pilihan ini membuat makhluk yang menjalaninya menjadi bingung, dan tidak henti-henti bertanya-tanya: mau yang mana? Yang itu bagus, yang ini indah, sebelah sana cakep dan seterusnya. Apalagi kalau berurusan dengan siapa yang akan berhak mendampingi hidup kita?

Hidup berkeluarga bukanlah sekedar berteman dan pada masa waktu yang singkat, melainkan untuk hidup bersama selama kita masih bisa menghirup udara bumi ini. Lama hidup kita akan kita habiskan bersama pasangan kita, dan pernikahan itupun seharusnya hanya terjadi sekali dalam hidup. Kalau tidak careful dalam memilih kita akan bersegera untuk memutuskan ikatan suci untuk hidup bersama ini.

Kebanyakan orang memang hanya memandang hidup secara pendek dan tidak punya visi dalam hidupnya sehingga dalam memilih pasanganpun hanya asal comot dan menarik dari sisi luar, tidak pernah berpikir kalau dalam hubungan serius seperti ini tidaklah cukup hanya mengandalkan performa luar yang kadang hanya menipu mata yang melihatnya.

Saya sangat tidak setuju dengan pandangan masyarakat kebanyakan yang hidup di Indonesia bahwa tugas istri hanyalah menemani suami, apalagi hanya pemuas nafsu sang suami dan harus nurut semua apa kata suami. Semua itu merendahkan nilai kemanusiaan yang memberi nilai yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Persamaan inilah yang harus diperhatikan ketika berpikir untuk menentukan pasangan hidup. Apakah si dia bisa bekerjasama dengan kita dalam membangun kehidupan panjang yang akan kita lalui bersama. Kita hidup hanya sekali, pasti ada sesuatu yang ingin kita capai selama hidup yang sangat terbatas ini.

Tujuan hidup bersama adalah agar bisa mempermudah kita dalam mencapai visi dan misi yang ingin kita raih dalam hidup ini. Mengingat hidup hanya terbatas sekali saja, dan kita tidak bisa mengulanginya, kita akan sangat merugi jika kita salah pilih dalam menentukan teman hidup, dan tidak bisa bekerjasama dalam menulis sejarah hidup kita. Kita akan menyesal selamanya jika kita gagal dalam perjalanan karir hidup.

Israel tidak pernah merampas tanah Palestina

Anggapan umum yang ada di masyarakat bahwa Israel telah merampas tanah Palestina sebenarnya tidak berdasar pada fakta sejarah dan muncul dari doktrin ajaran anti-Israel yang menginginkan pemusnahan terhadap bangsa Israel. Doktrin ini berkembang di daerah masyarakat yang mayoritas penduduknya Muslim, yang berdasarkan Kitab suci mereka, Israel digambarkan sebagai musuh bebuyutan dan musuh Tuhan mereka. Bahkan pada masa awal berdirinya Islam, di negara Jazirah Arab, terjadi pengusiran besar-besar terhadap warga Yahudi. Dan memanggil mereka dengan sebutan binatang keledai maupun babi.

Israel datang ke Jerussalem secara besar-besaran, atau yang kita kenal eksodus dari Mesir, sekitar 1050 SM pada masa Joshua, penerus Musa yang meninggal di perjalanan; dan bangsa Israel inilah yang membangun kota Jerussalem sebagai ibu kota Israel pada masa David, raja kedua Israel, sekitar 3000 tahun yang lalu.

Setelah David meninggal, lama-kelamaan kerajaan Israel ini pecah menjadi dua: Jerussalem dan Judea. Kerajaan Israel ini berkali-kali dijajah oleh bangsa-bangsa sekitarnya: Babylon (Iraq sekarang), Persia (Iran sekarang), dan Yunani; sampai pada tahun sekitar 168 Sebelum Masehi, Israel berhasil bangkit namun cepat-cepat dijajah lagi oleh Romawi, yang kemudian mengganti nama Judea ini dengan \”Palestine\” mengambil dari nama musuh Israel \”Filistine.\”

Adapun bangsa Arab Palestine, masuk ke kota Jerussalem ini sekitar abad ke 7, setelah Islam berkembang dan melakukan ekspansi, karena Arab belum pernah melakukan ekspansi sebelum masa Islam. Dari masa ekspansi inilah orang Arab dan bahasanya menjadi dikenal di sana. Karena mereka berkuasa dan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa negara.

Namun bangsa Yahudi masih ada di sana, hingga akhirnya terjadi perang salib pada abad 11 yang dilakukan oleh Eropa, dan menewaskan ribuan kaum Yahudi, termasuk juga Muslim, dan berhasil menguasainya, hingga pada abad 16 atau sekitar 1517 Turki menaklukkan Jerussalem dan menguasainya sampai 1918 karena diserang oleh Inggris dan berhasil mengambil alih Jerussalem.

Pada tahun 1920, Inggris membuat deklarasi Balfour yang mengakui hak Yahudi untuk mendirikan kembali negara di sana dan di setujui oleh Lega Bangsa-bangsa (League of Nations), yang pada tahun 1922 secara resmi membagi Jerussalem menjadi dua: bagian Timur yang disebut dengan Transjordan, dan pada tahun 1946 menjadi Negara Arab Jordan (The Arab Kingdom of Jordan); dan bagian Barat, di mulai dari Tepi Barat sungai Jordan, yang disebut Palestine. Daerah Palestine ini oleh PBB pada 1947 akan dibuat dua negara: Yahudi Palestine dan Arab Palestine, dan Yahudi Palestine ini mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1948 dan menyebutnya negara Israel.

Sebutan Palestine hanyalah nama yang diberikan Romawi kepada Judea Israel setelah menguasainya pada awal abad Masehi. Dan orang Yahudi yang di Israel adalah Yahudi Palestine, sedang orang Muslim atau Arab sampai sekarang masih memakai nama Palestine. Jadi, Palestine bukan nama yang diberikan Arab maupun khusus Arab.[fosifrenzy]

Media bias di Indonesia tentang Timur Tengah

Media Indonesia sangat terpengaruh pemberitaannya oleh keyakinan pribadi pembuat berita. Penyaji berita di Indonesia, entah ini demi tujuan komersil atau kebetulan, memberikan berita dan mengemasnya sesuai dengan selera mayoritas masyarakat. Saya kasih contoh dalam pemberitaan krisis Timur Tengah, media Indonesia tidak ada yang mengecam Hamas yang tidak menghentikan serangan roketnya ke Israel dan memancing agresi militer Israel ke Gaza. Kebanyakan hanya mengutuk Israel dan menceritakan kebahagian jika ada korban dari Israel yang jatuh.

Padahal tidak lah demikian keadaan seharusnya, media harus bisa menjaga objektifitas berita agar tidak menyesatkan para pembaca. Bayangkan saja ketika kita lihat aksi demo yang diadakan di Indonesia, banyak penduduk yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa tentang konflik Timur Tengah ikut-ikutan demo, karena ulah media yang telah menyesatkan pola pikir mereka.

Konflik Timur Tengah, konflik antara Israel dan Hamas, di media-media Indonesia dianggap perang antara dua agama besar Yahudi dan Islam. Padahal Israel tidak pernah mengeluarkan statement untuk memerangi Islam ataupun ingin menyerang penduduk Gaza yang tidak berdosa, mereka hanya ingin menghentikan tindakan Hamas yang tidak pernah menghentikan tindakan terornya, dengan peluncuran roket, ke penduduk Israel, dan penyerangan itupun atas pengetahuan Mesir sehari sebelum penyerangan dengan berkunjungnya Livni, menlu Israel, ke presiden Mubarak di Kairo.

Dan jika lihat juga reaksi negara-negara Arab di sekitar konflik seperti Arab Saudi, Qatar, Dubai, dan lain-lain, mereka semua diam menyetujui serangan Israel ke markas Hamas, dan semua menginginkan adanya perdamaian di Timur Tengah dengan menghabisi organisasi teroris Hamas yang tidak pernah mau mengakui Israel, dan malah ingin menghapus Israel dari peta bumi.

Para bangsa Arab setuju, bahkan rakyat Palestina sendiri yang berada di West Bank, seandainya Hamas dihabisi terorisme dan bom bunuh diri akan berakhir. Alasan Mesir pun menutup perbatasan Rafah, yang menghubungkan Gaza dan Sinai Mesir, demi untuk menjaga ke stabilan negara Mesir agar terorisme tidak pindah ke Mesir. Seandainya perbatasan tersebut dibuka, besar kemungkinan aktifitas terorisme pindah ke daerah sekitar Sinai Mesir dan akan merambat ke daerah-daerah lain di Kairo.

Dengan pemberitaan media Indo yang kerapkali terpengaruh oleh keyakinan individu, sang penulis berita, banyak sekali terjadi kesalahpahaman di masyarakat tentang konflik yang terjadi. Dan hal itu sangat berbahaya, apalagi dukungan media tersebut nantinya dibuat rujukan oleh kaum fundamentalis ekstrimis untuk merekrut kaum-kaum yang tidak mengerti apa-apa ke dalam jaringan terorisme.[fosifrenzy]

Pro-kebebasan belum mendapat ruang di Indonesia

Indonesia saat ini masih didominasi oleh kaum konservatif yang anti-kebebasan, dan selalu mengecap kaum liberal atau pengusung kebebasan dengan image buruk. Padahal tidak ada manusia yang menginginkan keburukan, hanya beda dalam cara pandang saja tentang baik dan buruk, sehingga terjadi konflik. Konflik ini kemudian diperparah dengan tindakan kaum konservatif yang tidak mau mendengar argumen dari lawan bicaranya, kaum liberal, karena kebenaran absolut yang mereka anut.

Tindakan klaim kebenaran inilah yang kemudian mengarah kepada ekstrimisme dan radikalisme, dan berlanjut ke arah pengrusakan dan aksi terorisme, karena menganggap semua yang menentang dan berlawanan ideologi dengan mereka sebagai musuh dan tidak layak untuk mendapat hak hidup, darah mereka halal.

Sebenarnya hal ini bisa dihindari seandainya tidak ada proses pembunuhan karakter, yang banyak dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat, di Indonesia. Proses pembodohan ini malah banyak dilakukan oleh para orang tua sendiri terhadap anak-anaknya, yang tidak memberi porsi ruang cukup terhadap kebebasan anaknya dalam menentukan keberhasilan hidupnya sendiri. Banyak orang tua yang memaksakan kehendak dirinya terhadap anaknya, terutama kalau anaknya itu perempuan, karena perempuan dianggap the second class of gender.

Pendidikan seperti ini yang ditanamkan sejak kecil terhadap anak, akan membentuk sebuah komunitas kaum anti-liberal kelak setelah dewasa. Hingga saat ini, generasi Indonesia masih didominasi oleh generasi lama yang rata-rata mendapat pendidikan konservatif dan absolut, meski sudah mulai bisa belajar menghormati perbedaan pendapat dan berpikir, tapi hal itu masih ada di daerah perkotaan dan kaum elit.

Kaum liberal saat ini, masih banyak menemukan kesulitan untuk berekspresi di berbagai tempat, karena resistensi dari masyarakat masih cukup besar dan radikal. Bahkan di berbagai daerah kaum konservatif telah berhasil menguasai pola pikir masyarakat dan mendapat simpati yang besar dengan tindakan mereka yang tidak politis dan cenderung anarkis dalam memberantas hal-hal yang dianggap kontra dengan mereka.

Gerakan liberalisme hanya bisa dinikmati kaum berpendidikan tingi dan berwawasan luas, dan sangat sukar menembus kalangan bawah, karena rata-rata rakyat bawah ketergantungannya pada agama sangat besar, sehingga pola berpikirnya dikuasai kaum penceramah dan para tokoh agama yang rata-rata anti-liberalisme dan menganggapnya musuh bersama dan harus diberantas.[fosifrenzy]

Di mana letak kebahagiaan kaum miskin?

Melihat liputan Euronews tentang kehidupan negara-negara sedang berkembang [baca: miskin] di daerah Amerika tengah, Mexico, Equador, dan lain-lain yang daerahnya saya lihat sama dengan keadaan Indonesia, baik sikap maupun kondisi masyarakatnya: ada yang mandi di sungai desa-desa, nyuci baju di atas batu, dan seterusnya. Termasuk bahkan kondisi kekayaan alamnya yang hijau, istilah kerennya di Indonesia kaya alam, sama persis seperti Indonesia [maksudnya sama-sama tidak tersentuh pembangunan, jadinya masih hijau... Lol].

Anehnya, dengan menyamakan keadaan di Indonesia, penduduknya yang hidup dalam keadaan seperti ini nampak tenang sekali, seakan-akan hidup damai tanpa beban, ketawa-ketawa, murah senyum; meski kalau diukur dari standard hidup normal, mereka itu hidupnya tidak sehat, minum air yang tidak steril, mandi di sungai, dan sebagainya.

Sama persis keadaannya dengan masyarakat Indonesia, orang Indonesia tenang bahkan bangga sekali dengan predikat alam yang kaya, hutan-hutan masih banyak yang hijau, suasana alami mendominasi kehidupan masyarakatnya. Padahal dengan masih banyaknya hutan yang lebat dan sebagainya adalah kata lain dari daerah yang belum dapat sentuhan pembangunan. Hutan masih lebat, binatang buas masih banyak, itu menandakan bahwa rakyat sekitarnya masih belum mampu mengelolanya.

Dan lebih aneh lagi, kebanyakan mereka merasa cukup dengan kehidupan yang demikian, bahkan malah banyak yang menentang modernisasi untuk daerah mereka. Mereka lebih seneng mengerjakan segala sesuatu dengan tenaga sendiri, tidak perlu pake mesin ataupun teknologi untuk membantu meringankan pekerjaan mereka.

Hidup seadanya kayaknya menjadi bagian dari pengertian bahagia bagi mereka. Mereka tidak memandang kekayaan materi dan pesatnya pembangunan sebagai penopang atau bagian dari kebahagiaan, sehingga mereka nampak tidak ada gerakan signifikan ke arah pembangunan ataupun gairah untuk mengembangkan potensi alam yang mereka miliki. Mereka sudah merasa cukup.

It\’s okay… This is their ways of life. No one can argue with that notion. Let them live their lives as they want. And let my life surrounded by their culture, though I cannot live as they do.[fosifrenzy]

Naik kendaraan umum ternyata lebih asik

Kalau kita pake kendaraan pribadi, kita mungkin hanya bisa merasakan sendiri, paling banyak dengan anggota keluarga yang sebanyak-banyaknya anggota keluarga tidak lebih dari orang-orang yanng sudah kita kenal. Saat kita berada di angkutan umum, kita bisa melihat wajah-wajah baru, wajah ceria, sedih, jelek, cakep, semua bisa kita dapatkan jika kita naik angkutan bersama.

Tidak hanya itu, dengan mengendarai sarana umum kita bisa tahu sejauh mana tindakan pemerintah dalam melayani masyarakatnya. Terutama yang berkaitan dengan tarif dan kemampuan masyarakat sendiri dalam bidang ekonomi. Jiwa sosial kita benar-benar terasa jika kita bergaul atau turun langsung ke lapangan melihat keadaan riil masyarakat.

Bahkan dalam kendaraan umum kita bisa tahu kebanyakan profesi masyarakat sekitar, dengan melihat penampilan atau bawaannya. Di kendaraan kita bisa saksikan orang bawa barang dagangan, ada juga yang hanya bawa tas dan berpakaian seragam sekolah, ada juga yang bawa gitar atau alat musik. Semua jarang kita temukan jika kita naik kendaraan pribadi.

Semakin sering kita berada dalam kendaraan umum, semakin banyak hal baru yang kita dapat, baik dalam peluang bisnis maupun dalam bidang peningkatan sarana dan pelayanan publik. Bahkan bisa untuk mencari bahan skripsi atau sekedar bahan kritikan terhadap pemerintah demi perbaikan dan kebaikan bersama. Peluang untuk menjalin hubungan sosial sangat besar dalam kendaraan umum.

Tidak hanya yang bersifat serius seperti politik dan kemasyarakatan, kita-kita yang berjiwa muda juga bisa melakukan kesempatan ini untuk mencari partner, baik partner kerja maupun partner hidup atau sekedar buat partner iseng-iseng ( ;) hehe), karena dengan banyaknya interaksi dengan orang dalam kendaraan, banyak hal yang selalu mengundang inspirasi (hati-hati… Jangan kemasukan inspirasi setan bertanduk… Hahaha).

Mulai saat ini, tidak perlu gengsi naik kendaraan umum, sekali-kali kita harus mau dan bisa merasakan apa yang dirasakan orang-orang sekitar kita. Hidup itu tidak sendiri, ada orang lain yang kadang-kadang butuh sama bantuan kita; sebagaimana juga kita tidak akan bisa bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Suatu saat kita harus bisa membantu orang lain, dan dalam kesempatan lain kita tidak bisa menghindari keadaan, akan butuh terhadap yang namanya bantuan orang-orang sekitar kita. [fosifrenzy]

Politic of fear masih berlaku di Indonesia

Menakut-nakuti merupakan kebiasaan untuk menundukkan seseorang. Di negara ketiga, termasuk Indonesia, saya lihat praktek seperti ini banyak dilakukan di mana-mana. Di lembaga perkantoran, keorganisasian, maupun lembaga-lembaga keagamaan. Semua memakai langkah ancaman untuk memaksakan kehendaknya terhadap orang lain. Ancaman pemutusan hubungan kerja lah, ancaman tidak digaji lah, dan sebagainya.

Kebanyakan orang-orang di dunia ketiga [baca: Indonesia] memang takut dengan ancaman, apalagi ancaman pemutusan hubungan kerja. Ini dikarenakan, menurut saya, kebanyakan masyarakat terbiasa hidup di kelas bawah yang selalu harus patuh dan tunduk pada atasan. Karena orang yang terbiasa hidup sebagai atasan tidak pernah merasa takut dengan ancaman apapun. Dia tidak takut kehilangan apa-apa.

Kebiasaan hidup di kelas bawah ini banyak ditanamkan oleh orang-orang tua di dunia ketiga, termasuk guru-guru pendidik dan guru-guru agama yang kebanyakan gila hormat dan menuntut semua perkataannya harus dituruti oleh anak didiknya atau masyarakatnya. Benih-benih seperti ini dibawa sang anak ke dunia dewasa, bahkan ke dunia politik. Sehingga diapun memiliki pandangan yang sangat berbahaya terhadap hidup ini. Misalnya, menganggap dirinya tidak berwibawa saat perkataannya tidak dituruti, padahal setiap punya kehendak masing-masing yang juga harus dihormati.

Benih-benih seperti ini sering menjadi cikal-bakal dunia kediktatoran. Saat seseorang merasa dirinya sangat penting dan sebagai satu-satunya patokan, dan perkataannya harus dituruti atau dalam bahasa hukum perkataannya menjadi undang-undang, maka dia tidak akan pernah bisa mentolerir hal-hal yang berseberangan dengan pendapat dia. Yang berseberangan akan dianggap pembangkang, dan politic of fear menjadi andalan.

Memang hanya kaum bawahan yang memiliki rasa takut terhadap atasan. Takut tidak makan lah, takut tidak punya jabatan lah, takut diusir lah dan seterusnya. Orang yang mau ditakut-takuti seperti itu tidak lebih dari watak seorang pembantu. Orang kaum atasan tidak takut untuk mengekspresikan keinginannya, dia bisa seratus persen menjadi dirinya, tanpa takut dengan ancaman atau tindakan menakut-nakuti lainnya.

Jika Indonesia masih menganut budaya pembantu seperti ini, sampai kapan pun, bangsa ini tidak akan maju dan sejajar dengan dunia barat. Budaya takut terhadap sesuatu jika terus ditanamkan pada anak-anak kita, akan mengarah kepada pencekalan kreatifitas generasi yang akan datang. Kesetaraan manusia akan terancam kembali kepada dunia perbudakan.[fosi_frenzy]

Investigasi kriminal Indonesia lamban; kekurangan tenaga?

Saya ketawa melihat berita pembunuhan ataupun mutilasi yang ditayangkan di TV. Gimana saya tidak ketawa, saat melihat tayangan ilustrasinya bersama komentar tim investigasinya yang mengatakan bahwa pelakunya terlatih karena plat nomer sepeda motor yang dipakai pelaku palsu. Pakai plat palsu saja sudah dianggap terlatih? Kayak gak pernah nonton film Hollywood aja tuh polisinya. Mana ada penjahat goblok jujur pakai plat nomer asli? Alasan aja tuh polisinya bilang kayak gitu, padahal mereka bilang kayak gitu karena polisi terlalu lugu dalam menghadapi penjahat.

Dalam penanganan kriminal, polisi sering lamban dan gagal menemukan pelaku, dan dengan mudahnya para pelaku lepas atau dengan tenang melakukan aksinya dalam jangka waktu yang lama tanpa terdeteksi. Seperti kasus Ryan di Jawa Timur yang sampai memakan banyak korban.

Saya jadi teringat kejadian pembunuhan yang dilakukan seorang staff KBRI Kairo (kebetulan saya juga kenal agak akrab dengan dia, tapi tidak terlibat dalam kasus ini) terhadap temannya yang berasal dari Malaysia, rekan bisnisnya, pada tahun 2003 (kalau saya tidak salah) dengan membakar satu keluarga korban; dalam waktu kurang dari 48 jam, sang pelaku ketahuan dan tertangkap oleh polisi.

Hal itu terjadi karena sistem keamanan yang ada di Kairo sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Di sana polisi banyak memiliki inteligen yang memantau keadaan sekitar, dalam waktu 24 jam. Dan keberadaan inteligen ini tersebar di mana-mana, setiap pojok dan sudut daerah tidak lepas dari pantauan, sehingga segala yang bergerak dan terjadi pada suatu tempat, pasti diketahui oleh keamanan.

Berbeda lagi dengan daerah London yang memasang kamera CCTV di setiap pojok kota dan selalu merekam gerak-gerik orang yang melintas; ditambah lagi dengan penyimpanan data sekurity penduduk yang meliputi data-data forensik, termasuk catatan DNA masing-masing individu. Sehingga bisa membantu dengan cepat proses penyelidikan.

Di Indonesia? Jangankan kamera CCTV, polisi saja jarang patroli, poskonya juga jaraknya berjauhan. Dan paling parah, terkadang malah polisinya ini yang bikin onar atau bahkan membacking para penjahat. Banyak yang salah dengan profesi polisi ini, kebanyakan jadi polisi bukan untuk tujuan menjaga keamanan dan kestabilan negara, tapi sekedar menitip perut dan sarana mengumpulkan duit.

Kalau kita hidup di daerah kota di Indonesia, mungkin kita masih bisa bilang lumayan beruntung, karena kantor polisi atau poskonya tidak begitu jauh dan mungkin bisa langsung pakai panggilan darurat 112. Tapi kalau tinggal di daerah? percuma kita memanggil 112, karena polisinya jauh, itupun kalau nyambung, keburu mati pemanggilnya sebelum polisi datang. Wajar sekali kejahatan tidak terdeteksi.[fosi_frenzy]

Mesir melakukan yang terbaik; Hamas harus bertanggung jawab

Penutupan perbatasan jalur Gaza-Mesir yang dilakukan presiden Husni Mubarak agar kaum militan Hamas tidak menyeberang ke Mesir dan menjadikannya tempat latihan merupakan aksi bertanggung jawab demi melindungi keutuhan dan stabilitas negara Mesir, bukan bermaksud untuk membantu membunuh masyarakat Palestina.

Mesir yang pernah menjadi pahlawan Arab dalam melawan Israel pada tahun 1967 pada masa Anwar Sadat sudah tahu bagaimana rasanya hidup dalam perang. Mereka tidak mau lagi hidup dalam perang, apalagi kalau negaranya mau menjadi basis kegiatan terorisme Hamas. Tindakan provokasi yang dilakukan pemimpin Hizbullah, Hasan Nasrullah, dengan mengatakan Mesir telah membantu pembunuhan rakyat Palestina dengan menutup perbatasan merupakan tindakan untuk memperluas arena perang.

Hamas seharusnya lah yang paling bertanggung jawab atas serangan Israel terhadap Palestina. Karena Hamas tidak mengakui Israel dan menginginkan Israel tamat, dengan serangan roket setiap hari ke Israel. Seperti kata Obama ketika berkunjung ke Israel: jika setiap hari rumah saya diserang dengan roket, dan hidup saya terganggu, saya akan melakukan apa saja untuk menghentikan tindakan tersebut.

Memang tindakan agresi serangan udara Israel sangat brutal, dengan menghujani Gaza dengan bom dan banyak menelan korban jiwa dan infrastruktur, namun yang jadi sasaran utama penyerangannya adalah Hamas yang kebetulan berlindung di balik padatnya penduduk Palestina, sehingga rakyat Palestina menjadi korban penyerangan. Seandainya Israel hendak menghabiskan Palestina, dan bukan Hamas, semestinya Israel juga menyerang West Bank atau Tepi Barat yang sedang dipimpin Fatah di bawah pimpinan Abbas.

Dalam kejadian agresi ini Hamas lah yang paling bertanggung jawab, di samping bersembunyi di balik kepadatan penduduk, seperti Hizbullah, juga tidak pernah mau mengakui hak Israel untuk eksis dan selalu melancarkan serangan roket tidak henti-henti ke arah Israel. Apa salahnya kalau hidup bersama, dan masing-masing mengakui hak orang lain untuk hidup?

Memang sudah semestinya juga Mesir menutup pintu perbatasan demi keamanan dan stabilitas negara. Dan yang harus dikutuk atas insiden ini adalah Hamas yang telah memprovokasi agresi militer Israel terhadap Gaza.[fosifrenzy]

When human are inhuman….

Perang di mana-mana. Manusia tidak lagi peduli akan orang di sekitarnya. Seakan-akan tidak lagi berharga jiwa manusia. Bom di mana-mana; tidak ada istilah damai selama belum banyak korban yang berjatuhan. Apakah manusia abad 21 ini sudah mulai kehilangan kemanusiaannya?

Seandainya saja manusia mau menganggap orang lain juga manusia seperti dirinya. Ingin hidup sama persis seperti dirinya. Kalau merasa sakit terkena pukul, orang lain juga sama sakit kalau dianiaya, apalagi sampai dibunuh. Seandainya saja mereka mau merasakan kehadiran orang lain juga sama seperti kehadiran dirinya….

Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan, demikian kata Yesus kepada para pengikutnya. Cintailah orang lain seperti kamu mencintai diri sendiri, kata Muhammad kepada teman-temannya. Cintailah musuhmu sebagaimana Bapa tidak pernah memilah-milah dalam membagi sinar matahari dan hujan kepada manusia, baik yang jahat dan yang baik-baik, semua sama-sama kebagian.

Tragedi penyerangan yang dilakukan teroris terhadap hotel Taj Mahal di Mumbai dan menelan korban hampir 200; aksi penyerangan roket yang tidak henti-hentinya dilakukan Hamas terhadap Israel, sehingga memprovokasi Israel untuk melakukan agresi militer dengan serangan udara dan akan dilanjutkan dengan operasi darat, telah membunuh warga Palestina lebih dari 400 jiwa dan melukai di atas 1500 orang.

Semua tragedi ini tidak akan terjadi seandainya manusia semua sadar kalau kita adalah sama-sama manusia, memiliki rasa sakit, senang dan tidak ingin diganggu oleh orang lain. Semua manusia ingin hidupnya damai, bebas dari ancaman ataupun teror dari siapapun. Layaknya lirik lagu dalam Aku Bukan Superstar: Aku hanyalah orang yang ingin dicintai… Yah, semua orang memang ingin hidup dicintai, tidak dibenci ataupun dikucilkan; semua orang ingin eksistensinya diakui.

Mengapa harus ada kebencian? Mengapa harus ada perang? Mengapa harus ada teror? Spread peace to the world… Stop the war…[fosi_frenzy]